
Optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja kian menipis seiring melemahnya persepsi terhadap kondisi ekonomi Tanah Air saat ini. Meskipun masih berada di zona optimistis, keyakinan konsumen terhadap peluang kerja menunjukkan penurunan pada hampir seluruh kelompok pendidikan dan usia.
Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Juni 2026 menunjukkan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 109,2, turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 112,2. Salah satu komponen yang mengalami pelemahan adalah Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang turun menjadi 101,8 dari 105,0 pada Mei 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini masih relatif kuat. Hal ini didukung oleh sejumlah indikator utama, termasuk penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, serta pembelian barang tahan lama.
Namun, khusus untuk ketersediaan lapangan kerja, penurunan indeks terjadi secara merata. Responden dengan pendidikan sarjana dan akademi/diploma masih mencatatkan persepsi optimistis dengan indeks masing-masing sebesar 109,0 dan 101,2.
Sementara itu, responden dengan tingkat pendidikan lainnya telah masuk ke level pesimistis alias di bawah 100. Berdasarkan kelompok usia, optimisme masih bertahan pada kelompok usia 20–40 tahun, bertolak belakang dengan kelompok usia 41 tahun ke atas. Tekanan tersebut juga terlihat pada ekspektasi masyarakat terhadap kondisi pasar kerja ke depan. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) enam bulan mendatang masih berada dalam zona optimistis, yakni pada level 124,4.
Namun, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja pada seluruh tingkat pendidikan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juni 2026 tercatat sebesar 126,4, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 129,7. Menanggapi data tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja perlu dilihat lebih dalam lantaran semakin menunjukkan arah menuju pelemahan.
“Secara teknis memang masih berada di atas batas optimistis 100, tetapi selisihnya hanya 1,8 poin, sehingga lebih tepat dibaca sebagai kondisi yang nyaris netral dan sedang melemah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (9/7/2026). Menurut Yusuf, persoalan utama tidak hanya terletak pada angka indeks secara keseluruhan, tetapi pada distribusi optimisme antarkelompok masyarakat. Saat ini, keyakinan terhadap ketersediaan lapangan kerja masih bertahan pada kelompok berpendidikan sarjana dan diploma, sementara kelompok berpendidikan menengah ke bawah telah memasuki zona pesimistis.









